Dalam beberapa bulan terkahir ini, kenaikan dolar yang cukup signifikan bahkan bisa dibilang terbesar sepanjang sejarah berdampak pada berbagai sektor ekonomi. Kita tahu bahwa Indonesia masih belum bisa mandiri untuk beberapa bahan baku industri yang menunjang perekonomian nasional. Sebagai produsen mainan playground, kami adalah salah satu produsen yang sangat terdampak dengan kenaikan harga dolar yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir ini. Keadaan yang membuat kami harus mengambil langkah-langkah alternatif agar bisnis yang kami jalankan ini tetap relevan dan kompetitip khususnya dari segi harga.
Dalam memproduksi mainan playground, kami menggunakan banyak mainan yang terbuat dari bahan baku fiberglass atau resin. Resin sendiri adalah tidak hanya digunakan dalam industri mainan playground saja, namun dalam banyak jenis industri. Seperti pembuatan kapal nelayan, pembuatan tangki air, pembuatan kursi tunggu, pembuatan bak sampah, dan masih banyak lagi. Dan bahan baku resin adalah minyak bumi yang bahannya banyak kita impor dari negeri tirai bambu Cina. Karena merupakan baran impor, tentu saja pembeliannya menggunakan dolar, dimana dolar pada satu bulan terakhir ini meningkat sangat drastis terhadap rupiah.
Banyak faktor yang membuat harga rupiah terhadap dolar meningkat tajam. Namun tentu pembahasan kami pada kesempatan ini tidak bisa detail seperti ulasan para ahli ekonomi dan juga ahli keuangan. Kami menduga, salah satu yang membuat harga dolar melemah terhadap rupiah adalah kebijakan fiskal dan moneter yang diambil oleh pemerintah lebih banyak fokus pada perputaran ekonomi domestik seperti pembiayaan pembiayaan makan bergizi gratis dan juga pembiayaan koperasi merah putih. Dan uang yang berputar yang dibelanjakan oleh pemerintah di dua sektor ini hanya berputar dalam negeri saja. Tidak untuk tujuan ekspor.
Baca juga: toko mainan playground fiberglass indoor-outdoor bergaransi di Indonesia
Kedua adalah perang Israel Amerika – Iran yang menyebabkan harga bahan minyak (BBM) meningkat tajam. Kenaikan harga bahan bakar minyak tidak hanya dialami oleh Indonesia saja karena terjadinya perang besar antara Iran – Israel Amerika ini. Namun juga Indonesia. Padahal, hingga saat ini, produksi bahan bakar siap pakai dalam negeri hanya 1 juta barel per hari, padahal kebutuhan dalam negeri 1,5 juta barel per hari. Kita kekurangan 500 ribu barel per hari dan harus kita impor. Dengan naiknya harga mata uang dolar terhadap rupiah ditambahkan kenaikan harga bahan bakar minyak karena terjadinya perang Iran Amerika Israel yang belum ada kesepakatan final damai, bertambah pula beban yang harus ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat.
Bahan Baku Resin Fiberglass yang Masih Impor
Seperti yang kami jelaskan secara singkat di atas, ketergantungan terhadap bahan baku impor untuk beberapa produk seperti resin dan juga bahan baku plastik membuat aktifitas banyak industri harus menyesuaikan harga agar tidak ambruk. Kami amati, kemampuan pabrik-pabrik di Indonesia dalam memproduksi bahan baku industri setengah jadi khususnya yang memerlukan minyak bumi masih minim. Tentu kalau penjelasannya terlalu rumit untuk kami paparkan di sini. Mulai dari dukungan pemerintah, akses modal yang masih terbatas, akses bahan baku, akses tenaga ahli dan juga persaingan harga dengan produsen luar negeri yang menawarkan harga yang lebih murah.
Baca juga: produsen mainan playground indoor-outdoor taman di Jogja
Ketika ada gejolak harga dolar atau terjadi peperangan seperti yang terjadi di negara-negara teluk beberapa bulan ini, sangat memukul bagi pabrik-pabrik dalam negeri yang mengandalkan bahan bakunya dari luar negeri. Pemerintah dalam beberapa rencana pembangunannya sudah melakukan upaya perencanaan untuk meningkatkan kemampuan industri di skala pembuatan bahan baku. Namun sekali lagi, butuh waktu yang tidak singkat, butuh dukungan penuh semua pihak dan juga persiapan jangka panjang yang benar-benar matang agar tidak mangkrak di tengah jalan.
Daya Beli Masyarakat yang Semakin Menurun
Kenaikan berbagai harga bahan pokok imbas dari kenaikan harga dolar dolar dan juga harga bahan bakar minyak juga berdampak pada penurunan daya beli masyarakat. Di saat yang sama, kenaikan harga berbagai bahan pokok ini tidak diiringi dengan kenaikan pendapatan atau gaji dari masyarakat. Bahkan dalam beberapa kasus, banyak masyarakat yang harus mendapati kenyataan pahit mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) karena beberapa perusahaan harus melakukan perampingan dalam situasi ekonomi yang lumayan berat ini.
Penurunan daya beli masyarakat dan beralihnya anggaran pemerintah untuk koperasi merah putih dan juga koperasi merah putih juga berdampak pada penjualan mainan perosotan dan mainan playground yang saat ini kami rasakan dampaknya. Dana desa yang biasanya bisa dikelola oleh pemerintah lebih dari satu miliar setiap tahun oleh pemerintah desa kini dipangkas lebih dari 50%. Padahal, beberapa konsumen yang cukup sering membeli mainan playground atau beberapa mainan fiberglass yangg kami tawarkan dalam website ini adalah pemerintah desa atas nama bumdes untuk membuka tempat wisata yang dikelola oleh desa.
Baca juga: toko mainan playground fiberglass taman di Bali
Kombinasi dari kenaikan harga bahan baku, kenaikan harga bahan pokok dan juga daya beli masyarakat yang melemah berdampak sangat signifikan pada penurunan penjualan mainan playground dan beberapa mainan yang kami tawarkan dalam website ini.
Dengan keadaan ekonomi yang bisa dibilang agak berat dan penuh tantangan di tahun 2026 seperti saat ini, kami sebagai pelaku bisnis mainan playground harus memutar otak agar bisa tetap bertahan dan juga berkembang. Kami masih optimis, bahwa ekonomi Indonesia masih bisa membaik ketika harga bahan bakar minyak mengalami penurunan dan pemerintah mengambil langkah-langkah mitigasi yang bagus untuk memperbaiki kelesuan ekonomi saat ini. Terimakasih sudah membaca.



